Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck
Judul
Buku : Tenggelamnya Kapal
Van Der Wijck
Penulis : Buya HAMKA
Jumlah
Halaman : 236 Halaman
Penerbit : Bulan Bintang
Kota
Terbit : Jakarta
Tahun
Terbit : Cetakan Pertama
1939
Novel buah tangan HAMKA ini dibuat pada usianya menginjak
31 tahun (1938), masa dimana darah mudanya masih cepat, khayal serta
sentimen masih memenuhi jiwa, di waktu itulah "ilham"
"Tenggelamnya Kapal Van der Wijck" ini mulai disusun dan dimuat
berturut-turut dalam majalah yang dipimpin M. Syarkawi "Pedoman Masyarakat."Setelah
itu dia diterbitkan menjadi buku oleh M. Syarkawi (cetakan kedua), seorang pemuda
yang giat menerbitkan buku-buku berharga. Beberapa lama kemudian buku HAMKA
laris dengan cepat. Banyak pemuda yang berkata: "Seakan-akan tuan
menceriterakan nasibku sendiri." Ada juga yang berkata: "Barangkah
tuan sendiri yang tuan ceritakan!". Ditahun tersebut sebenarnya seorang
ahli agama sangatlah tabu untuk membuat novel dengan genre romantis. Namun
setelah beberapa tahun kemudian tulisan HAMKA ini baru terasa perbedaanya
dengan novel roman yang lain. Kisah yang diangkat HAMKA selalu kisah yang tidak
biasa, menceritakan tentang budaya dan kisah tentang seorang anak manusia
dengan apa adanya namun sangat pandai menonjolkan pelajaran dalam setiap
ceritanya tanpa harus banyak menyertakan drama karena novel HAMKA cenderung
lebih tipis dari novel lainnya.
Menceritakan
tentang pemuda bernama Zainuddin yang telah lama
ditinggal ibu dan ayahnya
sejak kecil. Saat dewasa ia merantau jauh dari kampung halamannya. Ditempat itu
Zainuddin bertemu dengan seorang gadis yang lembut budi pekertinya dan tinggi
akhlaknya. Hayati namanya, namun
disebabkan oleh perbedaan adat dan kasta akhirnya Hayati terpaksa dinikahkan
oleh Aziz pemuda kaya yang sangat tempramental. Meski bergelimangan harta tak
membuat Hayati merasa bahagia. Lagi-lagi HAMKA mengangkat kisah cinta dari
perbedaan suku dan adat telah menjadi tembok penghalang antara kisah keduanya. Dalam
kisah ini HAMKA menuturkan
bagaimana seharusnya kisah cinta anak manusia berlangsung, banyak mengajarkan
akhlak dan etika dalam pergaulan Islam. Kisah yang
mengangkat latar budaya Minangkabau di Padang yang sangat mengutamakan adat
daripada Syariat sehingga memisahkan 2 orang yang saling mencintai karena agama
dan akhlak. Secara tidak langsung ini adalah bukti kritikan sosial HAMKA untuk
oarang yang memandang kasta dan derajat keturunan sebagai perkara besar. Zainuddin digambarkan sebagai tokoh yang sabar
dan kuat dalam menahan cobaan hidup yang menerpanya. HAMKA ingin menggambarkan
dan menyampaikan pesan
kepada para pemuda dengan cara yang tidak monoton yaitu dengan cerita yang bisa
di visualisasikan dalam diri masing-masing sehingga bisa dicontoh dalam
kehidupan sehari-hari
Kelebihan
Buku
Buku
ini adalah buah tangan salah satu ulama besar Indonesia, maka pemilihan
kalimatnya tidak sembarangan. Para pembaca akan dimanjakan oleh sastra khas
Buya HAMKA yang lahir dari ketajaman pola fikir dan ketinggian ilmunya. Tentu
saja ini cara Buya untuk berbicara pada generasi muda tentang bagaimana
seharusnya kita bersikap dalam masyarakat. Kisah Zainudin dan Hayati ini
menjadi salah satu karya sastra yang tak terlupakan meskipun telah ditulis
kurang lebih 78 tahun yang lalu.
Kekurangan Buku
Kekurangan
buku ini terletak pada pemborosan kata yang terlalu bertele-tele dan juga surat
menyurat antara Hayati dan Zainuddin yang sangat banyak, cenderung membuat para
pembaca merasa bosan, dan akan sulit bagi para pembaca yang tidak memahami
budaya asal Padang yang menjadi latar belakang cerita tersebut.
